Ziauddin Sardar membagi pendapat ilmuwan Muslim tentang hubungan ilmu pengetahuan dan Islam ke dalam 3 kelompok.7 Pertama,
kelompok yang menilai bahwa ilmu pengetahuan adalah netral dan
universal. Mereka mencari rumusan-rumusan dalam Al-Qur'an yang cocok
dengan hasil penemuan ilmu pengetahuan modern. Mereka menyimpulkan bahwa
rumusan-rumusan dalam Al-Qur'an sangat cocok dengan temuan ilmu
pengetahuan modern. Pendekatan ini terlihat kental dari karya Maurice
Bucaille; The Bible, The Qur'an and Science yang
tersebar luas. Kelompok ini kadang ada yang menyebut dengan
Buchaillisme. Pesan yang disampaikan adalah dengan kecocokan ini
membuktikan bahwa Al-Qur'an merupakan kitab yang memiliki kebenaran
hakiki yang datang dari pencipta alam semesta. Pendekatan ini terlihat
memberikan manfaat yang besar dengan pesan yang disampaikan tersebut.
Namun, menurut Sardar, ada yang perlu diwaspadai dengan pendekatan ini,
yakni Al-Qur’an dapat dilihat sebagai kitab ilmu pengetahuan dan bukan
kitab hikmah. Umat Islam membaca Al-Qur’an lebih berusaha untuk
menafsirkan ilmu pengetahuannya saja dengan menipiskan perannya sebagai
petunjuk hidup. Bahaya lain yang perlu diwaspadai, masih menurut Sardar,
adalah tujuan pengembangan iptek dibatasi pada pembuktian
rumusan-rumusan ilmu pengetahuan yang ada di dalam Al-Qur’an sehingga
tidak menuntun umat Islam untuk bersifat kreatif dan inovatif di rimba
ilmu pengetahuan yang sangat luas. Al-Qur’an harus dijadikan titik tolak
pengembangan ilmu pengetahuan, bukan sebagai muara akhir pengembangan
ilmu pengetahuan.
Kedua, kelompok yang masih mempertahankan netralitas dan universalitas ilmu pengetahuan, namun fungsinya harus diubah diarahkan menuju cita-cita Islam dan masyarakatnya. Kelompok ini, menurut Sardar, dipelopori oleh Z.A. Hasyimi dari Pakistan. Hasyimi menganjurkan agar para ilmuwan Muslim mampu menghilangkan unsur-unsur yang tidak diinginkan dalam ilmu pengetahuan barat. Mereka harus memahami sejarah dan filsafat ilmu pengetahuan serta memiliki kesadaran akan masa depan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak ilmuwan Muslim yang dapat dikatagorikan dalam kelompok ini, termasuk peraih hadiah Nobel Abdus Salam. Dia pernah menegaskan "Saya tidak dapat melihat perbedaan ruh dalam aljabar modern dengan yang dilakukan para ilmuwan Muslim, atau tradisi modern optika dengan Alhazen atau antara pengamatan Razi dengan perluasan modernnya." Sardar mengkritisi kelompok ini dengan menyatakan bahwa kelompok ini terlalu mengecilkan peran ilmu pengetahuan dalam perubahan masyarakat. Dia mengkhawatirkan, dengan pendekatan ini ilmu pengetahuan modern yang berakar dari sistem nilai barat dapat menghancurkan system nilai yang ada dalam masyarakat Islam, termasuk terjadinya konflik tujuan antara tujuan ilmu pengetahuan barat dengan tujuan masyarakat Islam.
Kelompok ketiga adalah kelompok yang tidak yakin dengan netralitas dan universalitas ilmu pengetahuan. Mereka berpendapat bahwa ilmu pengetahuan barat dibangun dengan cara pandang dan filosofi barat termasuk dalam memandang realitas.
Kelompok ini berpendapat konstruksi ilmu pengetahuan perlu dibangun kembali dengan cara pandang yang Islami. Sardar termasuk yang cenderung dengan kelompok ini. Deliar Noer kurang setuju dengan pendapat kelompok ini. Dia menyatakan bahwa langkah ini terlalu rumit, memakan waktu panjang dan memiliki tantangan yang sangat besar.[12]
Demikianlah 3 bentuk usaha yang telah dilakukan para ilmuwan Muslim dalam mensikapi ilmu pengetahuan dikaitkan dengan nilai-nilai Islam yang diyakininya. Tiga bentuk ini, tentu saja, masih mungkin terus berkembang dengan semakin tingginya kesadaran umat Islam akan keislamanya.
Kedua, kelompok yang masih mempertahankan netralitas dan universalitas ilmu pengetahuan, namun fungsinya harus diubah diarahkan menuju cita-cita Islam dan masyarakatnya. Kelompok ini, menurut Sardar, dipelopori oleh Z.A. Hasyimi dari Pakistan. Hasyimi menganjurkan agar para ilmuwan Muslim mampu menghilangkan unsur-unsur yang tidak diinginkan dalam ilmu pengetahuan barat. Mereka harus memahami sejarah dan filsafat ilmu pengetahuan serta memiliki kesadaran akan masa depan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak ilmuwan Muslim yang dapat dikatagorikan dalam kelompok ini, termasuk peraih hadiah Nobel Abdus Salam. Dia pernah menegaskan "Saya tidak dapat melihat perbedaan ruh dalam aljabar modern dengan yang dilakukan para ilmuwan Muslim, atau tradisi modern optika dengan Alhazen atau antara pengamatan Razi dengan perluasan modernnya." Sardar mengkritisi kelompok ini dengan menyatakan bahwa kelompok ini terlalu mengecilkan peran ilmu pengetahuan dalam perubahan masyarakat. Dia mengkhawatirkan, dengan pendekatan ini ilmu pengetahuan modern yang berakar dari sistem nilai barat dapat menghancurkan system nilai yang ada dalam masyarakat Islam, termasuk terjadinya konflik tujuan antara tujuan ilmu pengetahuan barat dengan tujuan masyarakat Islam.
Kelompok ketiga adalah kelompok yang tidak yakin dengan netralitas dan universalitas ilmu pengetahuan. Mereka berpendapat bahwa ilmu pengetahuan barat dibangun dengan cara pandang dan filosofi barat termasuk dalam memandang realitas.
Kelompok ini berpendapat konstruksi ilmu pengetahuan perlu dibangun kembali dengan cara pandang yang Islami. Sardar termasuk yang cenderung dengan kelompok ini. Deliar Noer kurang setuju dengan pendapat kelompok ini. Dia menyatakan bahwa langkah ini terlalu rumit, memakan waktu panjang dan memiliki tantangan yang sangat besar.[12]
Demikianlah 3 bentuk usaha yang telah dilakukan para ilmuwan Muslim dalam mensikapi ilmu pengetahuan dikaitkan dengan nilai-nilai Islam yang diyakininya. Tiga bentuk ini, tentu saja, masih mungkin terus berkembang dengan semakin tingginya kesadaran umat Islam akan keislamanya.
RSS Feed
Twitter
16.24
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar
silahkan komentar dengan sopan!