Minggu, 28 Desember 2014

Ziauddin Sardar membagi pendapat ilmuwan Muslim tentang hubungan ilmu pengetahuan dan Islam ke dalam 3 kelompok.7 Pertama, kelompok yang menilai bahwa ilmu pengetahuan adalah netral dan universal. Mereka mencari rumusan-rumusan dalam Al-Qur'an yang cocok dengan hasil penemuan ilmu pengetahuan modern. Mereka menyimpulkan bahwa rumusan-rumusan dalam Al-Qur'an sangat cocok dengan temuan ilmu pengetahuan modern. Pendekatan ini terlihat kental dari karya Maurice Bucaille; The Bible, The Qur'an and Science yang tersebar luas. Kelompok ini kadang ada yang menyebut dengan Buchaillisme. Pesan yang disampaikan adalah dengan kecocokan ini membuktikan bahwa Al-Qur'an merupakan kitab yang memiliki kebenaran hakiki yang datang dari pencipta alam semesta. Pendekatan ini terlihat memberikan manfaat yang besar dengan pesan yang disampaikan tersebut. Namun, menurut Sardar, ada yang perlu diwaspadai dengan pendekatan ini, yakni Al-Qur’an dapat dilihat sebagai kitab ilmu pengetahuan dan bukan kitab hikmah. Umat Islam membaca Al-Qur’an lebih berusaha untuk menafsirkan ilmu pengetahuannya saja dengan menipiskan perannya sebagai petunjuk hidup. Bahaya lain yang perlu diwaspadai, masih menurut Sardar, adalah tujuan pengembangan iptek dibatasi pada pembuktian rumusan-rumusan ilmu pengetahuan yang ada di dalam Al-Qur’an sehingga tidak menuntun umat Islam untuk bersifat kreatif dan inovatif di rimba ilmu pengetahuan yang sangat luas. Al-Qur’an harus dijadikan titik tolak pengembangan ilmu pengetahuan, bukan sebagai muara akhir pengembangan ilmu pengetahuan.

Kedua, kelompok yang masih mempertahankan netralitas dan universalitas ilmu pengetahuan, namun fungsinya harus diubah diarahkan menuju cita-cita Islam dan masyarakatnya. Kelompok ini, menurut Sardar, dipelopori oleh Z.A. Hasyimi dari Pakistan. Hasyimi menganjurkan agar para ilmuwan Muslim mampu menghilangkan unsur-unsur yang tidak diinginkan dalam ilmu pengetahuan barat. Mereka harus memahami sejarah dan filsafat ilmu pengetahuan serta memiliki kesadaran akan masa depan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak ilmuwan Muslim yang dapat dikatagorikan dalam kelompok ini, termasuk peraih hadiah Nobel Abdus Salam. Dia pernah menegaskan "Saya tidak dapat melihat perbedaan ruh dalam aljabar modern dengan yang dilakukan para ilmuwan Muslim, atau tradisi modern optika dengan Alhazen atau antara pengamatan Razi dengan perluasan modernnya." Sardar mengkritisi kelompok ini dengan menyatakan bahwa kelompok ini terlalu mengecilkan peran ilmu pengetahuan dalam perubahan masyarakat. Dia mengkhawatirkan, dengan pendekatan ini ilmu pengetahuan modern yang berakar dari sistem nilai barat dapat menghancurkan system nilai yang ada dalam masyarakat Islam, termasuk terjadinya konflik tujuan antara tujuan ilmu pengetahuan barat dengan tujuan masyarakat Islam.

Kelompok ketiga adalah kelompok yang tidak yakin dengan netralitas dan universalitas ilmu pengetahuan. Mereka berpendapat bahwa ilmu pengetahuan barat dibangun dengan cara pandang dan filosofi barat termasuk dalam memandang realitas.

Kelompok ini berpendapat konstruksi ilmu pengetahuan perlu dibangun kembali dengan cara pandang yang Islami. Sardar termasuk yang cenderung dengan kelompok ini. Deliar Noer kurang setuju dengan pendapat kelompok ini. Dia menyatakan bahwa langkah ini terlalu rumit, memakan waktu panjang dan memiliki tantangan yang sangat besar.[12]

Demikianlah 3 bentuk usaha yang telah dilakukan para ilmuwan Muslim dalam mensikapi ilmu pengetahuan dikaitkan dengan nilai-nilai Islam yang diyakininya. Tiga bentuk ini, tentu saja, masih mungkin terus berkembang dengan semakin tingginya kesadaran umat Islam akan keislamanya.

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar dengan sopan!