BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Telah dijelaskan
dalam asas-asas bimbingan dan konseling bahwa dalam pelaksanaan bimbingan dan
konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan, baik keterbukaan dari konselor
maupun dari konseli. Sehingga dalam bab ini penulis membahas keterbukaan ini
dalam kaitannya dengan teori membuka diri agar dalam layanan bimbingan dan
konseling terjalin komunikasi yang efektif antara konselor dan konseli.
Dalam buku
komunikasi antar pribadi yang ditulis oleh Sugiyo, teori membuka diri ini dapat
meningkatkan kualitas komunikasi dan ketika berkomunikasi dengan orang lain
maka akan meningkatkan pengetahuan tentang diri kita. Dalam buku tersebut
juga dibahas teori membuka diri menurut
Joseph Luft dan Harry Ingham yang biasanya disebut sebagai jendela Johari
(Johari window), faktor-faktor yang mempengaruhi self disclosure, manfaat dan
bahaya self disclosure, petunjuk untuk membuat dan petunjuk untuk merespon self
disclosure. Namun dalam bab ini penulis akan membahas penerapan teori membuka
diri dalam bimbingan dan konseling khususnya dalam bimbingan kelompok,
pengertian asas keterbukaan dalam bimbingan dan konseling, faktor-faktor yang
mempengaruhi self disclosure, manfaat self disclosure, dan petunjuk membuat disclosure
serta petunjuk untuk merespon self disclosure.
Diharapkan
dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi para calon konselor
agar dapat menerapkan teori self disclosure dalam bimbingan dan konseling
secara baik dan benar.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian teori membuka diri?
2.
Apa pengertian bimbingan dan konseling?
3.
Apa pengertian asas keterbukaan dalam
bimbingan dan konseling?
4.
Bagaimana penerapan teori membuka diri
dalam bimbingan dan konseling?
5.
Apa faktor-faktor yang mempengaruhi self
disclosure?
6.
Apa manfaat yang ditimbulkan oleh self
disclosure?
7.
Bagaimana cara membuat self disclosure
dan cara untuk merespon self disclosure?
1.3 TUJUAN
1.
Agar mahasiswa mengetahui pengertian
teori membuka diri.
2.
Agar mahasiswa mengetahui pengertian
bimbingan dan konseling.
3.
Agar mahasiswa mengetahui pengertian
asas keterbukaan dalam bimbingan dan konseling.
4.
Agar mahasiswa mengetahui penerapan
teori membuka diri dalam bimbingan dan konseling.
5.
Agar mahasiswa mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhi self disclosure.
6.
Agar mahasiswa mengetahui manfaat yang
ditimbulkan oleh self disclosure?
7.
Agar mahasiswa mengetahui cara membuat
self disclosure dan cara untuk merespon self disclosure?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
PENGERTIAN TEORI MEMBUKA DIRI
Self disclosure merupakan tipe komunikasi dimana
informasi tentang diri yang normalnya disimpan atau dirahasiakan tetapi justru
disampaikan pada orang lain. Menurut teknik jendela johari, pengetahuan tentang
diri akan meningkatkan komunikasi dan
pada saat yang sama berkomunikasi dengan orang lain akan meningkatkan pengetahuan
tentang diri kita. Dengan membuka diri kita akan memdekati kenyataan dan bila
demikian maka akan cenderung lebih terbuka dengan orang lain yang pada
gilirannya akan menerima informasi dan pengalaman serta gagasan baru dari siapa
pun juga. Teknik Johari Window juga dapat disebut sebagai teknik yang
mengkondisikan seseorang untuk mau berinteraksi dengan orang lain dengan
menerima umpan balik dan berbagi dengan apa yang diinginkan agar seseorang
mendapatkan informasi tentang dirinya, sehingga seesorang itu dapat memahami
dirinya, mengetaui kelebihan dan kekurangan dirinya.

Gambar Johari
Window
Keterangan:
A.
Open area (diri yang terbuka) adalah
informasi tentang diri kita yang diketahui oleh orang lain seperti nama,
jabatan, pangkat, status perkawinan, lulusan mana, dll. Ketika memulai sebuah
hubungan, kita akan menginformasikan sesuatu yang ringan tentang diri kita. Makin
lama maka informasi tentang diri kita akan terus bertambah secara vertical
sehingga mengurangi hidden area. Makin besar open area, makin produktif dan
menguntungkan hubungan interpersonal kita.
B.
Blind area (diri yang buta) yang
menentukan bahwa orang lain sadar akan sesuatu tapi kita tidak. Misalnya
bagaimana cara mengurangi grogi, bagaimana caranya menghadapi dosen A, dll.
Sehingga dengan mendapatkan masukan dari orang lain, blind area akan berkurang.
Makin kita memahami kekuatan dan kelemahan diri kita yang diketahui orang lain,
maka akan bagus dalam bekerja tim.
C.
Hidden area (diri yang tersembunyi) berisi
informasi yang kita tahu tentang diri kita tapi tertutup bagi orang lain.
Informasi ini meliputi perhatian kita mengenai atasan, pekerjaan, keuangan,
keluarga, kesehatan, dll. Dengan tidak berbagi mengenai hidden area, biasanya
akan menjadi penghambat dalam berhubungan. Hal ini akan membuat orang lain
miskomunikasi tentang kita, yang kalau dalam hubungan kerja akan
mengurangi tingkat kepercayaan orang
D.
Unknown area (diri yang tak dikenal)
adalah informasi yang orang lain dan juga kita tidak mengetahuinya. Sampai kita
dapat pengalaman tentang sesuatu hal atau orang lain melihat sesuatu akan diri
kita bagaimana kita bertingkah laku atau berperasaan. Misalnya ketika pertama
kali menyukai orang lain selain anggota keluarga kita. Kita tidak pernah bisa
mengatakan perasaan “cinta”. Jendela ini akan mengecil sehubungan kita tumbuh
dewasa, mulai mengembangkan diri atau belajar dari pengalaman.
2.2
PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING
2.2.1
Pengertian bimbingan
Bimbingan
secara umum diartikan sebagai suatu bantuan. Namun tidak setiap bantuan adalah
bimbingan. Bentuk bantuan dalam bimbingan membutuhkan syarat tertentu, bentuk
tertentu, prosedur tertentu, dan pelaksanaan tertentu sesuai dengan dasar,
prinsip dan tujuannya.
Bimbingan
adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada
seseorang atau beberapa individu, baik anak, remaja, maupun dewasa, agar orang
yang dibimbing mendapat pengembangan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri,
dengan memanfaatkan kekuatan individu yang ada dan dapat dikembangkan
berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Bimbingan
adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, baik pria maupun wanita, yang
telah terlatih dengan baik dan memiliki kepribadian dan pendidikan yang memadai
kepada seseorang, dari semua usia untuk membantunya mengatur kegiatan,
keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri (Crow & Crow, dalam Erman
Amti 1992:2)
Bimbingan
adalah bantuan yang diberikan kepada individu-individu dalam menentukan
pilihan-pilihan dan mengadakan berbagai penyesuaian dengan bijaksana dengan
lingkungan. Adapun tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan setiap individu
sesuai dengan kemampuanya ( Jones, dalam Djumhur dan M.Surya, 1975:10).
Bimbingan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang
membantu menyediakan kesempatan-kesempatan pribadi dan layanan staf ahli dengan
cara mana, setiap individu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan dan kesanggupannya
sepenuh-penuhnya sesuai dengan ide-ide demokrasi (Mortensen & Scmuller,
dalam Prayitno dan E.Amti ,1994:94). Dari berbagai pendapat yang dikemukakan
para ahli tersebut, pada prinsipnya mengandung berbagai unsur pokok sebagai
berikut :
a.
Bimbingan merupakan suatu proses yang
berkelanjutan. Hal ini mengandung arti bahwa kwgiatan bimbingan bukan merupakan
suatu kegiatan yang dilakukan secara kebetulan, insidental, sewaktu-waktu,
tidak sengaja, atau asal saja, melainkan suatu kegiatan yang dilakukan dengan sistematis,
sengaja, berencana, terus-menerus, dan terarah pada tujuan. Setiap kegiatan
bibingan merupakan kegiatan yang berkelanjutan artinya senantiasa diikuti
secara terus-menerus dan aktif sampai sejauh mana individu telah berhasil mencapi tujuan dan menyesuaikan diri.
b.
Bimbingan merupakan proses membantu
individu. Dengan perkataan membantu berarti bukan suatu paksaan. Bimbingan
tidak memaksakan kehendak pembimbing kepada individu untuk maju ke satu tujuan
yang ditetapkan oleh pembimbing secara pasti, melainkan membantu menolong
mengarahkan individu ke arah suatu tujuan yang sesuai dengan potensinya secara
optimal. Proses bimbingan merupakan kegiatan yang bersifat kerja sama yang
bersifat demokratis dan tidak otoriter dari pihak pembimbing. Oleh karena itu
bimbingan memerlukan teknik-teknik tertentu yang memadai dan objektif.
c.
Sasaran pelayanan dalam bimbingan adalah
orang diberi bantuan, baik secara individual maupun secara kelompok.
d.
Bantuan diberikan kepada semua orang
tanpa kecuali, artinya tidak diberikan kepada kelompok-kelompok umur tertentu
saja, tetapi meliputi semua usia, mulai anak-anak, remaja, dan orang dewasa.
e.
Bantuan yang diberikan bertujuan agar
individu dapat mengembangkan dirinya secara optimal menjadi pribadi yang
mandiri sehingga individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik
keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
f.
Untuk mencapai tujuan bimbingan,
digunakan pendekatan pribadi denga menggunakan berbagai teknik dan media
bimbingan. Pendekatan pribadi adalah pendekatan yang bertitik tolak pada
pandangan siswa sebagai pribadi yang unik dengan segala ciri dan
karakteristiknya.
g.
Bimbingan diberikan oleh orang-orang
yang ahli, yaitu orang yang memiliki keahlian dan pengalaman khusus dalam
bidang bimbingan. Dengan kata lain pekerjaan bimbingan ini merupakan suatu
profesi.
h.
Bimbingan hendaknya dilaksanakan sesuai
dengan norma-norma yang berlaku. Norma tersebut dapat berupa : aturan, nilai
dan ketentuan yang bersumber dari agama, adat, hukum, ilmu, dan kebiasaan yang
berlaku dimasyarakat.
Berdasar ciri di atas, maka yang
dimaksud bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang
yang ahli kepada seorang atau beberapa orang, baik anak-anak, remaja maupun
dewasa, agar orang yang dibimbing mendapat mengembangkan kemampuan dirinya
sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu yang ada dan dapat
dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
2.2.2 Pengertian konseling
Secara
etimologis. Istilah konseling berasal dari bahasa latin, yaitu Consilium yang
berarti dengan atau bersama yang dirangkai dengan kata menerima atau memahami.
Menurut Division of Counseling Psychology ( Prayitno, 1994:1001), konseling
diartikan sebagai suatu proses untuk membantu individu mengatasi
hambatan-hambatan perkembangan dirinya, dan untuk mencapai perkembangan optimal
kemampuan pribadi yang dimilikinya, dimana proses tersebut terjadi setiap
waktu.
Pada dasarnya
masing-masing rumusan mengandung hal-hal pokok sebagai berikut:
a. Konseling
adalah suatu proses memberi bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling
oleh para ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah
(klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.
b. Konseling
melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan
komunikasi langsung, mengemukakan dan memperhatikan dengan saksama isi
pembicaraan, gerakan-gerakan isyarat, pandangan mata, dan gerakan-gerakan lain
dengan maksud meningkatkan pemahaman kedua belah pihak yang terlibat di dalam
interaksi itu.
c. Interakasi
antara klien dan konselor berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan terarah
pada pencapaian tujuan.
d. Tujuan
dari hubungan konseling adalah terjadinya perubahan pada tingkah laku klien.
e. Model
interaksi di dalam konseling itu terbatas pada dimensi verbal, yaitu konselor
dan klien saling berbicara. Keduanya terlibat dalam memikirkan, berbicara dan
mengemukakan gagasan-gagasan yang akhirnya bermuara pada teratasinya masalah
klien.
f. Konseling
didasari atas penerimaan-penerimaan konselor secara wajar tentang diri klien,
yaitu atas dasar penghargaan terhadap harkat dan martabat klien.
Dapat
dirumuskan dengan singkat bahwa yang dimaksud dengan konseling adalah suatu
proses memberi bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh para
ahli (yang disebut konselor kepada
individu yang sedang mengalami suatu masalah ( disebut klien) yang bermuara
pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.
2.3
PENGERTIAN ASAS KETERBUKAAN DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING
Dalam
pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan, baik
keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari klien. Keterbukaan ini bukan
hanya sekedar bersedia menerima saran-saran dari luar, tetapi juga diharapkan masing-masing
pihak yang bersangkutan bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan
masalah. Individu yang membutuhkan bimbingan diharapkan dapat berbicara sejujur
mungkin dan berterus terang tentang dirinya sendiri, sehingga dengan
keterbukaan ini penelaahan serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan
klien dapat dilaksanakan.
Keterusterangan
dan kejujuran klien akan terjadi jika klien tidak lagi mempersoalkan asas
kerahasiaan dan kesukarelaan. Maksudnya, klien telah betul-betul mempercayai
konselornya dan benar-benar mengharapkan bantuan dari konselornya. Lebih jauh
keterbukaan akan semakin berkembang apabila klien tahu bahwa konselornya
terbuka.
Keterbukaan
disini ditinjau dari dua arah. Dari pihak klien diharapkan pertama-tama mau
membuka diri sendiri, sehingga apa yang ada pada dirinya dapat diketahui oleh
orang lain (konselor) dan keduanya mau membuka diri dalam arti mau menerima
saran-saran dan masukan lainnya dari pihak luar. Dari pihak konselor,
keterbukaan terwujud dengan ketersediaan konselor menjawab
pertanyaan-pertanyaan klien dan mengungkapkan diri konselor sendiri jika hal
itu dikehendaki oleh klien. Dalam hubungan yang bersuasana seperti itu
masing-masing pihak bersifat transparan (terbuka) terhadap pihak lain.
2.4
PENERAPAN TEORI MEMBUKA DIRI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING
Dalam bab ini hanya akan dibahas penerapan teori
membuka diri dari teknik Johari Window dalam bimbingan kelompok khususnya untuk
siswa yang terisolasi. Berikut pengertian bimbingan kelompok menurut para ahli,
yaitu:
Menurut Prayitno layanan bimbingan kelompok adalah
layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana kelompok. Dan menurut I.Djumhur
layanan bimbingan kelompok adalah teknik yang dipergunakan dalam membantu murid
atau sekelompok murid memecahkan masalah-masalah dengan melalui kegiatan
kelompok. Sedangkan menurut Gazda yang dikutip oleh Prayitno mengenai layanan
bimbingan kelompok adalah kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk
membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Ditambahkan lagi
oleh Mc. Daniel yang dikutip Oleh Prayitno bahwa berbagai informasi berkenaan
dengan orientasi siswa baru, pindah program, dan peta sosiometri siswa dapat
disampaikan dan dibahas dalam layanan bimbingan kelompok. Jadi dapat
disimpulkan bahwa layanan bimbingan kelompok adalah layanan yang diberikan
kepada sekelompok siswa untuk membuat keputusan dalam suasana kelompok.
Tujuan bimbingan kelompok adalah:
1. Pengembangan
pribadi
2. Membahas
masalah-masalah yang ada dalam kelompok untuk saling menelaah dan memberi pemahaman
bahwa masalah tidak khusus untuk individu tetapi peserta lain ikut mengambil
bagian dalam rangka mengambil keputusan penyelesaian masalah.
3. Memberi
kesempatan kepada semua peserta untuk mengungkapkan perasaan diri sendiri.
4. Membantu peserta belajar memahami perasaan
peserta lain dalam mengatasi masalahnya.
Teknik Johari Window seperti yang dijelaskan di atas
adalah bertujuan membuka diri, yaitu terbuka kepada orang lain dan terbuka bagi
yang lain. Dalam bukunya Supratiknya diterangkan bahwa umpan balik dari orang
lain yang kita percaya memang dapat meningkatkan pemahaman diri kita, yakni
membuat kita sadar pada aspek-aspek diri serta konsekuensi-konsekuensi perilaku
kita yang tidak pernah kita sadari sebelumnya. Seperti yang diuraikan oleh Mc.
Daniel dalam bukunya Prayitno, salah satu masalah yang dapat dibahas dalam
layanan bimbingan kelompok adalah peta sosiometri dan cara untuk mengembangkan
hubungan antar siswa.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan teknik
johari window ini sesuai untuk dilakukan dalam layanan bimbingan kelompok.
Teknik johari window dipergunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial,
dalam hal ini hubungan antar siswa melalui latihan. Dalam kelompok yang sudah
terbentuk dalam bimbingan, penerapan teknik johari window akan mengkondisikan
antar peserta kelompok saling menelaah, saling mengungkapkan perasaan dan
menyelesaikan masalah yang ada dalam masalah kelompok atau tujuan yang ingin
dicapai dalam bimbingan kelompok.
Dalam proses konseling teknik ini juga sesuai jika
diterapkan untuk menyelesaikan masalah
siswa yang terisolasi karena siswa yang terisolasi membutuhkan
pengembangan komunikasi di antara siswa-siswa yang lain. Menurut Johnson,
beberapa manfaat pembukaan diri yang ada dalam penerapan teknik Johari window
adalah:
1. Pembukaan
diri merupakan dasar bagi hubungan yang sehat antara dua orang.
2. Semakin
seseorang bersikap terbuka kepada orang lain, semakin orang lain tersebut akan
menyukai diri seseorang tersebut, akibatnya orang lain tersebut akan semakin
membuka diri.
3. Orang
yang rela membuka diri kepada orang lain terbukti cenderung memiliki
sifat-sifat sebagai berikut: kompeten, terbuka, ekstrovert, fleksibel, adaptif,
dan inteligen.
4. Membuka
diri kepada orang lain merupakan dasar relasi yang memungkinkan komunikasi
intim baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.
5. Membuka
diri berarti bersikap realistik.
Jadi dapat disimpulkan bahwa keefektifitasan teknik
johari window dalam layanan bimbingan kelompok bagi siswa terisolasi adalah
masing-masing siswa dapat mengutarakan masing-masing keinginannya, menerima
umpan balik tentang tingkah laku diri, dan memodifikasi tingkah laku sampai
orang lain mempersepsikan sebagaimana kita maksudkan sehingga terbuka hubungan yang
baik, dan masalah isolasi dapat terselesaikan.
2.5
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SELF DISCLOSURE
Faktor-faktor
yang mempengaruhi self disclosure adalah:
1. Keterbukaan
orang lain
Umumnya self disclosure
ini bersifat timbal balik. Jika dalam interaksi orang lain terlebih dulu
membuka diri maka akan memancing diri kita untuk membuka diri. Selain itu self
disclosure akan terjadi ketika dalam interaksi ada reaksi yang positif dan
penghargaan dari masing-masing orang yang sedang berintaraksi.
2. Ukuran
audiens
Ukuran orang yang dalam
jumlah sedikit misalnya dua orang maka ada kecenderungan untuk membuka diri
karena demikian yang paling memungkinkan atau memudahkan pihak yang terbuka
untuk menghadapi reaksi dan respon dari pihak lain.
3. Topik
Topik akan mempengaruhi
banyak orang yang akan membuka diri. Contohnya orang yang mempumyai hobby yang
sama ada kecenderungan untuk membuka diri karena mempunya kesamaan dalam topik
yang dibicarakan.
4. Valensi
Valensi merupakan
kualitas pisitif atau negatif dari self disclosure. Penelitian mengidentifikasikan
bahwa kita mengembangkan atraksi yang lebih besar pada orang yang menggunakan
self disclosure yang positif.
5. Gender
Menurut hasil
penelitian bahwa wanita lebih terbuka dibanding dengan pria tetapi dalam segi
kualitas self disclosure, keduanya mengarah ke negatif.
6. Lawan
bicara
Beberapa studi kasus bahwa kita
cenderung membuka diri pada orang yang dekat dan akrab dengan kita selain itu pada orang yang kita sukai, pada
orang menerima kita, mengerti kita, serta hangat dan mendukung kita.
2.6
MANFAAT SELF DISCLOSURE
Manfaat
dari self disclosure adalah:
1. Informasi
tentang diri kita
Dengan membuka diri
pada orang lain kita mendapat perspektif tentang diri kita, dan lebih memahami
perilaku kita. Atau dapat digunakan untuk menanyakan pada diri kita sendiri,
misalnya “Siapa saya” jawaban terhadap pertanyaan tersebut memberikan dampak
pada kita sehingga kita semakin mengerti tentang diri kita.
2. Kemampuan
untuk mengatasi masalah
Katerbukaan perasaan
akan membantu kita mengatasi masalah. Kita menerima diri kita melalui cara
pandang orang lain terhadap kita, jika kita merasa orang lain akan menolak kita
maka kita akan menolak diri kita juga.
3. Komunikasi
efektif
Dengan adanya
keterbukaan maka diantara orang yang berkomunikasi maka kita akan lebih
memahami apa yang dimaksud dalam pembicaraan. Disamping itu komunikasi akan
efektif jika orang yang berkomunikasi sudah saling mengenal dengan baik.
4. Hubungan
penuh makna
Dengan keterbukaan kita
percaya pada orang lain menghargai mereka dan peduli pada mereka. Hal ini akan
berbalik pada kita, orang lain pun akan demikian dengan kita.
5. Kesehatan
mental
Jiaka seseorang yang mempunyai
masalah kemudian menceritaka pada orang lain maka ia akan merasa lega dan
merasa semua persoalan yang dihadapi sudah terpecahkan dan ada gilirannya
merasa lega serta menjadi labih rileks dalam menghadapi kehidupan.
2.7
CARA MEMBUAT DAN CARA MERESPON SELF
DISCLOSURE
2.7.1
Cara membuat self disclosure.
1. Pertimbangkan
motivasinya.
Maksudnya adalah
melalui keterbukaan jangan untuk menyakiti orang lain contohnya dengan membuka
aib orang lain.
2. Pertimbangkan
waktu yang tepat dan tempatnya artinya agar membuka diri mempunyai makna yang
positif.
3. Pertimbnagkan
kesempatan yang ada untuk terbuka dan jujur dalam merespon. Hindari self
disclosure jika kita dalam situasi yang penuh tekanan atau yang tidak
memungkinkan untuk merespon seperti yang kita harapkan.
4. Pertimbangkan
kejelasan secara langsung.
Tujuan self disclosure
adalah untuk menginformasikan bukan membuat bingung orang lain. Oleh karena itu
maka dalam membuka diri harus jelas dan tegas.
5. Pertimbangkan
keterbukaan dengan pihak lain.
Dalam suatu hubungan
jika kita sudah membuka diri maka kita harus memberi kesempatan orang lain
untuk membuka diri juga. Jika pihak lain tidak menunjukkan sinyal untuk membuka
diri maka keterbukaan dari kita tidak diterima dengan baik atau tidak pada saat
dan tempat yang tepat.
6. Pertimbangkan
kemungkinan bebab-beban self disclosure (efek), artinya apabila dengan membuka
diri justru memberikan hasil yang kurang menguntungkan maka sebaiknya membuka
diri tidak dilakukan.
2.7.2
Petunjuk untuk merespon self disclosure.
1. Berlatih
kemampuan mendengarkan yang efektif dan aktif..
2. Memberi
dukungan.
3. Menghargai
orang yang sudah terbuka.
4. Memelihara
perilaku yang terbuka.
5. Ketika
seseorang terbuka terhadap kita, hal ini karena dia berharap kita tahu apa yang
dirasakan dan dipikirkan.
6. Jangan
memanfaatkan keterbukaan orang lain untuk melawannya.
BAB III
PENUTUP
3.1 SIMPULAN
1. Self
disclosure merupakan tipe komunikasi dimana informasi tentang diri yang
normalnya disimpan atau dirahasiakan tetapi justru disampaikan pada orang lain.
2. Bimbingan
adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang yang ahli kepada
seorang atau beberapa orang, baik anak-anak, remaja maupun dewasa, agar orang
yang dibimbing mendapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri,
dengan memanfaatkan kekuatan individu yang ada dan dapat dikembangkan
berdasarkan norma-norma yang berlaku.
3. Konseling
adalah suatu proses memberi bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling
oleh para ahli (yang disebut konselor)
kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah ( disebut klien)
yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.
4. Dalam
pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan, baik
keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari klien.
5. Menurut
Prayitno layanan bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan
dalam suasana kelompok.
6. Teknik
johari window ini sesuai untuk dilakukan dalam layanan bimbingan kelompok
karena teknik johari window dipergunakan untuk memecahkan masalah-masalah
sosial, dalam hal ini hubungan antar siswa melalui latihan.
7. Faktor-faktor
yang mempengaruhi self disclosure adalah: Keterbukaan orang lain, Ukuran
audiens, Topik, Valensi, Gender, dan Lawan bicara.
8. Manfaat
dari self disclosure adalah: Informasi tentang diri kita, Kemampuan untuk,
mengatasi masalah, Komunikasi efektif, Hubungan penuh makna, dan Kesehatan
mental.
9. Cara
membuat self disclosure, yaitu: Pertimbangkan motivasinya, Pertimbangkan waktu yang
tepat dan tempanya, Pertimbnagkan kesempatan yang ada untuk terbuka dan jujur
dalam merespon, Pertimbangkan kejelasan secara langsung, Tujuan self disclosure
adalah untuk menginformasikan, Pertimbangkan keterbukaan dengan pihak lain, Pertimbangkan
kemungkinan bebab-beban self disclosure (efek).
10. Petunjuk
untuk merespon self disclosure, yaitu: Berlatih kemampuan mendengarkan yang
efektif dan aktif, Memberi dukungan, Menghargai orang yang sudah terbuka, Memelihara
perilaku yang terbuka, Jangan memanfaatkan keterbukaan orang lain untuk
melawannya.
3.2 SARAN
1. Seorang
konselor harus dapat membujuk konseli agar mau terbuka agar konselor dapat
mengatasi masalah konseli dengan tepat.
2. Seorang
konselor harus dapat menguasai teknik-teknik dalam bimbingan dan konseling agar
layanan bimbingan dan konseling berjalan dengan lancar.
3. Seorang
konselor harus dapat menerapkan teori membuka diri dengan baik agar dalam
layanan bimbingan dan konseling terjalin komunikasi yang efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Sugiyo. 2005. Komunikasi antar pribadi. Semarang:
UNNES PRESS
Prayitno,
Erman Amti.2008. Dasar-Dasar
Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT RINEKA CIPTA
Hubptain-gdl-almudlohir-7577-3.pdf
http://A Little
Note Pembukaan Diri Melalui Johari
Window.html
http://Bimbingan dan
Konseling Asas-Asas dalam Bimbingan dan
Konseling.html
http://meiliemma.wordpress.com20080212johari-window.html
RSS Feed
Twitter
07.33
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar
silahkan komentar dengan sopan!