Rabu, 24 Desember 2014


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Telah dijelaskan dalam asas-asas bimbingan dan konseling bahwa dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan, baik keterbukaan dari konselor maupun dari konseli. Sehingga dalam bab ini penulis membahas keterbukaan ini dalam kaitannya dengan teori membuka diri agar dalam layanan bimbingan dan konseling terjalin komunikasi yang efektif antara konselor dan konseli.
Dalam buku komunikasi antar pribadi yang ditulis oleh Sugiyo, teori membuka diri ini dapat meningkatkan kualitas komunikasi dan ketika berkomunikasi dengan orang lain maka akan meningkatkan pengetahuan tentang diri kita. Dalam buku tersebut juga  dibahas teori membuka diri menurut Joseph Luft dan Harry Ingham yang biasanya disebut sebagai jendela Johari (Johari window), faktor-faktor yang mempengaruhi self disclosure, manfaat dan bahaya self disclosure, petunjuk untuk membuat dan petunjuk untuk merespon self disclosure. Namun dalam bab ini penulis akan membahas penerapan teori membuka diri dalam bimbingan dan konseling khususnya dalam bimbingan kelompok, pengertian asas keterbukaan dalam bimbingan dan konseling, faktor-faktor yang mempengaruhi self disclosure, manfaat self disclosure, dan petunjuk membuat disclosure serta petunjuk untuk merespon self disclosure.
Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi para calon konselor agar dapat menerapkan teori self disclosure dalam bimbingan dan konseling secara baik dan benar.


1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian teori membuka diri?
2.      Apa pengertian bimbingan dan konseling?
3.      Apa pengertian asas keterbukaan dalam bimbingan dan konseling?
4.      Bagaimana penerapan teori membuka diri dalam bimbingan dan konseling?
5.      Apa faktor-faktor yang mempengaruhi self disclosure?
6.      Apa manfaat yang ditimbulkan oleh self disclosure?
7.      Bagaimana cara membuat self disclosure dan cara untuk merespon self disclosure?


1.3  TUJUAN
1.      Agar mahasiswa mengetahui pengertian teori membuka diri.
2.      Agar mahasiswa mengetahui pengertian bimbingan dan konseling.
3.      Agar mahasiswa mengetahui pengertian asas keterbukaan dalam bimbingan dan konseling.
4.      Agar mahasiswa mengetahui penerapan teori membuka diri dalam bimbingan dan konseling.
5.      Agar mahasiswa mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi self disclosure.
6.      Agar mahasiswa mengetahui manfaat yang ditimbulkan oleh self disclosure?
7.      Agar mahasiswa mengetahui cara membuat self disclosure dan cara untuk merespon self disclosure?


















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN TEORI MEMBUKA DIRI
Self disclosure merupakan tipe komunikasi dimana informasi tentang diri yang normalnya disimpan atau dirahasiakan tetapi justru disampaikan pada orang lain. Menurut teknik jendela johari, pengetahuan tentang diri akan  meningkatkan komunikasi dan pada saat yang sama berkomunikasi dengan orang lain akan meningkatkan pengetahuan tentang diri kita. Dengan membuka diri kita akan memdekati kenyataan dan bila demikian maka akan cenderung lebih terbuka dengan orang lain yang pada gilirannya akan menerima informasi dan pengalaman serta gagasan baru dari siapa pun juga. Teknik Johari Window juga dapat disebut sebagai teknik yang mengkondisikan seseorang untuk mau berinteraksi dengan orang lain dengan menerima umpan balik dan berbagi dengan apa yang diinginkan agar seseorang mendapatkan informasi tentang dirinya, sehingga seesorang itu dapat memahami dirinya, mengetaui kelebihan dan kekurangan dirinya.
Johari Window
Gambar Johari Window
Keterangan:
A.     Open area (diri yang terbuka) adalah informasi tentang diri kita yang diketahui oleh orang lain seperti nama, jabatan, pangkat, status perkawinan, lulusan mana, dll. Ketika memulai sebuah hubungan, kita akan menginformasikan sesuatu yang ringan tentang diri kita. Makin lama maka informasi tentang diri kita akan terus bertambah secara vertical sehingga mengurangi hidden area. Makin besar open area, makin produktif dan menguntungkan hubungan interpersonal kita.
B.     Blind area (diri yang buta) yang menentukan bahwa orang lain sadar akan sesuatu tapi kita tidak. Misalnya bagaimana cara mengurangi grogi, bagaimana caranya menghadapi dosen A, dll. Sehingga dengan mendapatkan masukan dari orang lain, blind area akan berkurang. Makin kita memahami kekuatan dan kelemahan diri kita yang diketahui orang lain, maka akan bagus dalam bekerja tim.
C.     Hidden area (diri yang tersembunyi) berisi informasi yang kita tahu tentang diri kita tapi tertutup bagi orang lain. Informasi ini meliputi perhatian kita mengenai atasan, pekerjaan, keuangan, keluarga, kesehatan, dll. Dengan tidak berbagi mengenai hidden area, biasanya akan menjadi penghambat dalam berhubungan. Hal ini akan membuat orang lain miskomunikasi tentang kita,  yang kalau dalam hubungan kerja akan mengurangi tingkat kepercayaan orang
D.    Unknown area (diri yang tak dikenal) adalah informasi yang orang lain dan juga kita tidak mengetahuinya. Sampai kita dapat pengalaman tentang sesuatu hal atau orang lain melihat sesuatu akan diri kita bagaimana kita bertingkah laku atau berperasaan. Misalnya ketika pertama kali menyukai orang lain selain anggota keluarga kita. Kita tidak pernah bisa mengatakan perasaan “cinta”. Jendela ini akan mengecil sehubungan kita tumbuh dewasa, mulai mengembangkan diri atau belajar dari pengalaman.
2.2 PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING
2.2.1 Pengertian bimbingan
Bimbingan secara umum diartikan sebagai suatu bantuan. Namun tidak setiap bantuan adalah bimbingan. Bentuk bantuan dalam bimbingan membutuhkan syarat tertentu, bentuk tertentu, prosedur tertentu, dan pelaksanaan tertentu sesuai dengan dasar, prinsip dan tujuannya.
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada seseorang atau beberapa individu, baik anak, remaja, maupun dewasa, agar orang yang dibimbing mendapat pengembangan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, baik pria maupun wanita, yang telah terlatih dengan baik dan memiliki kepribadian dan pendidikan yang memadai kepada seseorang, dari semua usia untuk membantunya mengatur kegiatan, keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri (Crow & Crow, dalam Erman Amti 1992:2)
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu-individu dalam menentukan pilihan-pilihan dan mengadakan berbagai penyesuaian dengan bijaksana dengan lingkungan. Adapun tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan setiap individu sesuai dengan kemampuanya ( Jones, dalam Djumhur dan M.Surya, 1975:10). Bimbingan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan-kesempatan pribadi dan layanan staf ahli dengan cara mana, setiap individu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan dan kesanggupannya sepenuh-penuhnya sesuai dengan ide-ide demokrasi (Mortensen & Scmuller, dalam Prayitno dan E.Amti ,1994:94). Dari berbagai pendapat yang dikemukakan para ahli tersebut, pada prinsipnya mengandung berbagai unsur pokok sebagai berikut :
a.       Bimbingan merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Hal ini mengandung arti bahwa kwgiatan bimbingan bukan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara kebetulan, insidental, sewaktu-waktu, tidak sengaja, atau asal saja, melainkan suatu kegiatan yang dilakukan dengan sistematis, sengaja, berencana, terus-menerus, dan terarah pada tujuan. Setiap kegiatan bibingan merupakan kegiatan yang berkelanjutan artinya senantiasa diikuti secara terus-menerus dan aktif sampai sejauh mana individu telah berhasil  mencapi tujuan dan menyesuaikan diri.
b.      Bimbingan merupakan proses membantu individu. Dengan perkataan membantu berarti bukan suatu paksaan. Bimbingan tidak memaksakan kehendak pembimbing kepada individu untuk maju ke satu tujuan yang ditetapkan oleh pembimbing secara pasti, melainkan membantu menolong mengarahkan individu ke arah suatu tujuan yang sesuai dengan potensinya secara optimal. Proses bimbingan merupakan kegiatan yang bersifat kerja sama yang bersifat demokratis dan tidak otoriter dari pihak pembimbing. Oleh karena itu bimbingan memerlukan teknik-teknik tertentu yang memadai dan objektif.
c.       Sasaran pelayanan dalam bimbingan adalah orang diberi bantuan, baik secara individual maupun secara kelompok.
d.      Bantuan diberikan kepada semua orang tanpa kecuali, artinya tidak diberikan kepada kelompok-kelompok umur tertentu saja, tetapi meliputi semua usia, mulai anak-anak, remaja, dan orang dewasa.
e.       Bantuan yang diberikan bertujuan agar individu dapat mengembangkan dirinya secara optimal menjadi pribadi yang mandiri sehingga individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
f.       Untuk mencapai tujuan bimbingan, digunakan pendekatan pribadi denga menggunakan berbagai teknik dan media bimbingan. Pendekatan pribadi adalah pendekatan yang bertitik tolak pada pandangan siswa sebagai pribadi yang unik dengan segala ciri dan karakteristiknya.
g.      Bimbingan diberikan oleh orang-orang yang ahli, yaitu orang yang memiliki keahlian dan pengalaman khusus dalam bidang bimbingan. Dengan kata lain pekerjaan bimbingan ini merupakan suatu profesi.
h.      Bimbingan hendaknya dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Norma tersebut dapat berupa : aturan, nilai dan ketentuan yang bersumber dari agama, adat, hukum, ilmu, dan kebiasaan yang berlaku dimasyarakat.
Berdasar ciri di atas, maka yang dimaksud bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang, baik anak-anak, remaja maupun dewasa, agar orang yang dibimbing mendapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
2.2.2 Pengertian konseling
Secara etimologis. Istilah konseling berasal dari bahasa latin, yaitu Consilium yang berarti dengan atau bersama yang dirangkai dengan kata menerima atau memahami. Menurut Division of Counseling Psychology ( Prayitno, 1994:1001), konseling diartikan sebagai suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangan dirinya, dan untuk mencapai perkembangan optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya, dimana proses tersebut terjadi setiap waktu.
Pada dasarnya masing-masing rumusan mengandung hal-hal pokok sebagai berikut:
a.       Konseling adalah suatu proses memberi bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh para ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.
b.      Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung, mengemukakan dan memperhatikan dengan saksama isi pembicaraan, gerakan-gerakan isyarat, pandangan mata, dan gerakan-gerakan lain dengan maksud meningkatkan pemahaman kedua belah pihak yang terlibat di dalam interaksi itu.
c.       Interakasi antara klien dan konselor berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan terarah pada pencapaian tujuan.
d.      Tujuan dari hubungan konseling adalah terjadinya perubahan pada tingkah laku klien.
e.       Model interaksi di dalam konseling itu terbatas pada dimensi verbal, yaitu konselor dan klien saling berbicara. Keduanya terlibat dalam memikirkan, berbicara dan mengemukakan gagasan-gagasan yang akhirnya bermuara pada teratasinya masalah klien.
f.       Konseling didasari atas penerimaan-penerimaan konselor secara wajar tentang diri klien, yaitu atas dasar penghargaan terhadap harkat dan martabat klien.
Dapat dirumuskan dengan singkat bahwa yang dimaksud dengan konseling adalah suatu proses memberi bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh para ahli (yang disebut konselor  kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah ( disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.

2.3 PENGERTIAN ASAS KETERBUKAAN DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING
Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan, baik keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari klien. Keterbukaan ini bukan hanya sekedar bersedia menerima saran-saran dari luar, tetapi juga diharapkan masing-masing pihak yang bersangkutan bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah. Individu yang membutuhkan bimbingan diharapkan dapat berbicara sejujur mungkin dan berterus terang tentang dirinya sendiri, sehingga dengan keterbukaan ini penelaahan serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan klien dapat dilaksanakan.
Keterusterangan dan kejujuran klien akan terjadi jika klien tidak lagi mempersoalkan asas kerahasiaan dan kesukarelaan. Maksudnya, klien telah betul-betul mempercayai konselornya dan benar-benar mengharapkan bantuan dari konselornya. Lebih jauh keterbukaan akan semakin berkembang apabila klien tahu bahwa konselornya terbuka.
Keterbukaan disini ditinjau dari dua arah. Dari pihak klien diharapkan pertama-tama mau membuka diri sendiri, sehingga apa yang ada pada dirinya dapat diketahui oleh orang lain (konselor) dan keduanya mau membuka diri dalam arti mau menerima saran-saran dan masukan lainnya dari pihak luar. Dari pihak konselor, keterbukaan terwujud dengan ketersediaan konselor menjawab pertanyaan-pertanyaan klien dan mengungkapkan diri konselor sendiri jika hal itu dikehendaki oleh klien. Dalam hubungan yang bersuasana seperti itu masing-masing pihak bersifat transparan (terbuka) terhadap pihak lain.

2.4 PENERAPAN TEORI MEMBUKA DIRI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING
Dalam bab ini hanya akan dibahas penerapan teori membuka diri dari teknik Johari Window dalam bimbingan kelompok khususnya untuk siswa yang terisolasi. Berikut pengertian bimbingan kelompok menurut para ahli, yaitu:
Menurut Prayitno layanan bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana kelompok. Dan menurut I.Djumhur layanan bimbingan kelompok adalah teknik yang dipergunakan dalam membantu murid atau sekelompok murid memecahkan masalah-masalah dengan melalui kegiatan kelompok. Sedangkan menurut Gazda yang dikutip oleh Prayitno mengenai layanan bimbingan kelompok adalah kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Ditambahkan lagi oleh Mc. Daniel yang dikutip Oleh Prayitno bahwa berbagai informasi berkenaan dengan orientasi siswa baru, pindah program, dan peta sosiometri siswa dapat disampaikan dan dibahas dalam layanan bimbingan kelompok. Jadi dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan kelompok adalah layanan yang diberikan kepada sekelompok siswa untuk membuat keputusan dalam suasana kelompok.
Tujuan bimbingan kelompok adalah:
1.      Pengembangan pribadi
2.      Membahas masalah-masalah yang ada dalam kelompok untuk saling menelaah dan memberi pemahaman bahwa masalah tidak khusus untuk individu tetapi peserta lain ikut mengambil bagian dalam rangka mengambil keputusan penyelesaian masalah.
3.      Memberi kesempatan kepada semua peserta untuk mengungkapkan perasaan diri sendiri.
4.       Membantu peserta belajar memahami perasaan peserta lain dalam mengatasi masalahnya.
Teknik Johari Window seperti yang dijelaskan di atas adalah bertujuan membuka diri, yaitu terbuka kepada orang lain dan terbuka bagi yang lain. Dalam bukunya Supratiknya diterangkan bahwa umpan balik dari orang lain yang kita percaya memang dapat meningkatkan pemahaman diri kita, yakni membuat kita sadar pada aspek-aspek diri serta konsekuensi-konsekuensi perilaku kita yang tidak pernah kita sadari sebelumnya. Seperti yang diuraikan oleh Mc. Daniel dalam bukunya Prayitno, salah satu masalah yang dapat dibahas dalam layanan bimbingan kelompok adalah peta sosiometri dan cara untuk mengembangkan hubungan antar siswa.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan teknik johari window ini sesuai untuk dilakukan dalam layanan bimbingan kelompok. Teknik johari window dipergunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial, dalam hal ini hubungan antar siswa melalui latihan. Dalam kelompok yang sudah terbentuk dalam bimbingan, penerapan teknik johari window akan mengkondisikan antar peserta kelompok saling menelaah, saling mengungkapkan perasaan dan menyelesaikan masalah yang ada dalam masalah kelompok atau tujuan yang ingin dicapai dalam bimbingan kelompok.
Dalam proses konseling teknik ini juga sesuai jika diterapkan untuk menyelesaikan masalah  siswa yang terisolasi karena siswa yang terisolasi membutuhkan pengembangan komunikasi di antara siswa-siswa yang lain. Menurut Johnson, beberapa manfaat pembukaan diri yang ada dalam penerapan teknik Johari window adalah:
1.      Pembukaan diri merupakan dasar bagi hubungan yang sehat antara dua orang.
2.      Semakin seseorang bersikap terbuka kepada orang lain, semakin orang lain tersebut akan menyukai diri seseorang tersebut, akibatnya orang lain tersebut akan semakin membuka diri.
3.      Orang yang rela membuka diri kepada orang lain terbukti cenderung memiliki sifat-sifat sebagai berikut: kompeten, terbuka, ekstrovert, fleksibel, adaptif, dan inteligen.
4.      Membuka diri kepada orang lain merupakan dasar relasi yang memungkinkan komunikasi intim baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.
5.      Membuka diri berarti bersikap realistik.
Jadi dapat disimpulkan bahwa keefektifitasan teknik johari window dalam layanan bimbingan kelompok bagi siswa terisolasi adalah masing-masing siswa dapat mengutarakan masing-masing keinginannya, menerima umpan balik tentang tingkah laku diri, dan memodifikasi tingkah laku sampai orang lain mempersepsikan sebagaimana kita maksudkan sehingga terbuka hubungan yang baik, dan masalah isolasi dapat terselesaikan.

2.5 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SELF DISCLOSURE
Faktor-faktor yang mempengaruhi self disclosure adalah:
1.      Keterbukaan orang lain
Umumnya self disclosure ini bersifat timbal balik. Jika dalam interaksi orang lain terlebih dulu membuka diri maka akan memancing diri kita untuk membuka diri. Selain itu self disclosure akan terjadi ketika dalam interaksi ada reaksi yang positif dan penghargaan dari masing-masing orang yang sedang berintaraksi.
2.      Ukuran audiens
Ukuran orang yang dalam jumlah sedikit misalnya dua orang maka ada kecenderungan untuk membuka diri karena demikian yang paling memungkinkan atau memudahkan pihak yang terbuka untuk menghadapi reaksi dan respon dari pihak lain.
3.      Topik
Topik akan mempengaruhi banyak orang yang akan membuka diri. Contohnya orang yang mempumyai hobby yang sama ada kecenderungan untuk membuka diri karena mempunya kesamaan dalam topik yang dibicarakan.
4.      Valensi
Valensi merupakan kualitas pisitif atau negatif dari self disclosure. Penelitian mengidentifikasikan bahwa kita mengembangkan atraksi yang lebih besar pada orang yang menggunakan self disclosure yang positif.
5.      Gender
Menurut hasil penelitian bahwa wanita lebih terbuka dibanding dengan pria tetapi dalam segi kualitas self disclosure, keduanya mengarah ke negatif.
6.      Lawan bicara
Beberapa studi kasus bahwa kita cenderung membuka diri pada orang yang dekat dan akrab dengan kita  selain itu pada orang yang kita sukai, pada orang menerima kita, mengerti kita, serta hangat dan mendukung kita.
2.6 MANFAAT SELF DISCLOSURE
Manfaat dari self disclosure adalah:
1.      Informasi tentang diri kita
Dengan membuka diri pada orang lain kita mendapat perspektif tentang diri kita, dan lebih memahami perilaku kita. Atau dapat digunakan untuk menanyakan pada diri kita sendiri, misalnya “Siapa saya” jawaban terhadap pertanyaan tersebut memberikan dampak pada kita sehingga kita semakin mengerti tentang diri kita.
2.      Kemampuan untuk mengatasi masalah
Katerbukaan perasaan akan membantu kita mengatasi masalah. Kita menerima diri kita melalui cara pandang orang lain terhadap kita, jika kita merasa orang lain akan menolak kita maka kita akan menolak diri kita juga.
3.      Komunikasi efektif
Dengan adanya keterbukaan maka diantara orang yang berkomunikasi maka kita akan lebih memahami apa yang dimaksud dalam pembicaraan. Disamping itu komunikasi akan efektif jika orang yang berkomunikasi sudah saling mengenal dengan baik.
4.      Hubungan penuh makna
Dengan keterbukaan kita percaya pada orang lain menghargai mereka dan peduli pada mereka. Hal ini akan berbalik pada kita, orang lain pun akan demikian dengan kita.
5.      Kesehatan mental
Jiaka seseorang yang mempunyai masalah kemudian menceritaka pada orang lain maka ia akan merasa lega dan merasa semua persoalan yang dihadapi sudah terpecahkan dan ada gilirannya merasa lega serta menjadi labih rileks dalam menghadapi kehidupan.
2.7 CARA MEMBUAT  DAN CARA MERESPON SELF DISCLOSURE
2.7.1 Cara membuat self disclosure.
1.      Pertimbangkan motivasinya.
Maksudnya adalah melalui keterbukaan jangan untuk menyakiti orang lain contohnya dengan membuka aib orang lain.
2.      Pertimbangkan waktu yang tepat dan tempatnya artinya agar membuka diri mempunyai makna yang positif.
3.      Pertimbnagkan kesempatan yang ada untuk terbuka dan jujur dalam merespon. Hindari self disclosure jika kita dalam situasi yang penuh tekanan atau yang tidak memungkinkan untuk merespon seperti yang kita harapkan.
4.      Pertimbangkan kejelasan secara langsung.
Tujuan self disclosure adalah untuk menginformasikan bukan membuat bingung orang lain. Oleh karena itu maka dalam membuka diri harus jelas dan tegas.
5.      Pertimbangkan keterbukaan dengan pihak lain.
Dalam suatu hubungan jika kita sudah membuka diri maka kita harus memberi kesempatan orang lain untuk membuka diri juga. Jika pihak lain tidak menunjukkan sinyal untuk membuka diri maka keterbukaan dari kita tidak diterima dengan baik atau tidak pada saat dan tempat yang tepat.
6.      Pertimbangkan kemungkinan bebab-beban self disclosure (efek), artinya apabila dengan membuka diri justru memberikan hasil yang kurang menguntungkan maka sebaiknya membuka diri tidak dilakukan.
2.7.2 Petunjuk untuk merespon self disclosure.
1.      Berlatih kemampuan mendengarkan yang efektif dan aktif..
2.      Memberi dukungan.
3.      Menghargai orang yang sudah terbuka.
4.      Memelihara perilaku yang terbuka.
5.      Ketika seseorang terbuka terhadap kita, hal ini karena dia berharap kita tahu apa yang dirasakan dan dipikirkan.
6.      Jangan memanfaatkan keterbukaan orang lain untuk melawannya.












BAB III
PENUTUP
3.1  SIMPULAN
1.      Self disclosure merupakan tipe komunikasi dimana informasi tentang diri yang normalnya disimpan atau dirahasiakan tetapi justru disampaikan pada orang lain.
2.      Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang, baik anak-anak, remaja maupun dewasa, agar orang yang dibimbing mendapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
3.      Konseling adalah suatu proses memberi bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh para ahli (yang disebut konselor)  kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah ( disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.
4.      Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan, baik keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari klien.
5.      Menurut Prayitno layanan bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana kelompok.
6.      Teknik johari window ini sesuai untuk dilakukan dalam layanan bimbingan kelompok karena teknik johari window dipergunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial, dalam hal ini hubungan antar siswa melalui latihan.
7.      Faktor-faktor yang mempengaruhi self disclosure adalah: Keterbukaan orang lain, Ukuran audiens, Topik, Valensi, Gender, dan Lawan bicara.
8.      Manfaat dari self disclosure adalah: Informasi tentang diri kita, Kemampuan untuk, mengatasi masalah, Komunikasi efektif, Hubungan penuh makna, dan Kesehatan mental.
9.      Cara membuat self disclosure, yaitu: Pertimbangkan motivasinya, Pertimbangkan waktu yang tepat dan tempanya, Pertimbnagkan kesempatan yang ada untuk terbuka dan jujur dalam merespon, Pertimbangkan kejelasan secara langsung, Tujuan self disclosure adalah untuk menginformasikan, Pertimbangkan keterbukaan dengan pihak lain, Pertimbangkan kemungkinan bebab-beban self disclosure (efek).
10.  Petunjuk untuk merespon self disclosure, yaitu: Berlatih kemampuan mendengarkan yang efektif dan aktif, Memberi dukungan, Menghargai orang yang sudah terbuka, Memelihara perilaku yang terbuka, Jangan memanfaatkan keterbukaan orang lain untuk melawannya.

3.2  SARAN
1.      Seorang konselor harus dapat membujuk konseli agar mau terbuka agar konselor dapat mengatasi masalah konseli dengan tepat.
2.      Seorang konselor harus dapat menguasai teknik-teknik dalam bimbingan dan konseling agar layanan bimbingan dan konseling berjalan dengan lancar.
3.      Seorang konselor harus dapat menerapkan teori membuka diri dengan baik agar dalam layanan bimbingan dan konseling terjalin komunikasi yang efektif.















DAFTAR PUSTAKA
Sugiyo. 2005. Komunikasi antar pribadi. Semarang: UNNES PRESS
Prayitno,  Erman Amti.2008. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT RINEKA CIPTA
Hubptain-gdl-almudlohir-7577-3.pdf
http://A Little Note  Pembukaan Diri Melalui Johari Window.html
http://Bimbingan dan Konseling  Asas-Asas dalam Bimbingan dan Konseling.html

http://meiliemma.wordpress.com20080212johari-window.html

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar dengan sopan!